Profil Desa

 PROFIL  DESA

  • Kondisi Desa
    • Legenda Desa

Pada jaman dahulu, seperti yang telah diceritakan oleh para Sesepuh Desa, keadaan Desa Mantingan tidaklah semaju sekarang. Hutan Mantingan dulu sangat lebat, penerangan listrik belum ada bahkan kolam renang yang menjadi pusat wisata orang – orang luar daerah tidaklah sebagus sekarang. Semuanya belum tertata dengan baik. Banyak sekali loji – loji atau Pesanggrahan yang berada di Desa Mantingan yang masih bisa dilihat sebagai bukti sejarah tempo dulu.

Meski demikian jaman dulu sarana transportasi sudah sangat ramai. Apalagi sejak di bangunnya stasiun kereta api pada tahun 1898 lama kelamaan banyak sekali orang – orang dari luar Desa Mantingan terutama para pedagang yang singgah di Desa Mantingan Yang singgah untuk Menawarkan dagangannya.

Pada saat itu sturktur pemerintahan tidak begitu jelas. Hingga sekitar tahun 1918 Desa Mantingan dipimpin seorang lurah ( Kepala Desa ) yang bernama “ Djoyo suwito” dari kecamatan Bangkle Kabupaten Blora dari tahun 1918 – 1938 yang lebih dikenal dengan sebutan “Mbah Djoyo” selanjut nya “Sutrisno” dari tahun 1938-1945 dan dilanjutkan oleh “Wakijan” yang berasal dari Medang Kabupaten Blora dari tahun 1945 – 1955. Semua lurah – lurah tersebut tidaklah dipilih melalui pemilihan Kepala Desa oleh masyarakat Desa Mantingan melainkan ditunjuk langsung oleh pemerintah, sehingga lebih dikenal dengan sebutan “Lurah Bayangan”

Satu sejarah yang tidak dapat dilupakan, sekitar tahun 1945 – 1949 tentara “Ronggolawe Jati Kusuma” dari Tuban pernah singgah di Pemandian/Pesanggrahan dan sekarang yang lebih dikenal dengan Wana Wisata Mantingan untuk bergerilya melawan penjajah ( Jepang dan Belanda )

Seiring dengan perkembangan jaman Desa Mantingan telah beberapa kali dipimpin olh Kepala Desa yang dipilih melalui pemilihan Kepala Desa, diantaranya :

  1. Tahun 1955 – 1985, Dipimpin oleh Djaman
  2. Tahun 1985 – 1994 , Dipimpin oleh Kariman
  3. Tahun 1994 – 2003, Dipimpin oleh Sutiyono
  4. Tahun 2003 – 2008, Dipimpin oleh Yuliani Ari Setyoningsih, SE
  5. Tahun 2008 – 2014, Dipimpin oleh Pariyadi
  6. Tahun 2015 ( bulan januari – juni 201 15) dipimpin oleh Pj. Suryo Ponco Nugroho
  7. Tahun 2015  ( bulan Juli) – akhir tahun 2016 dipimpin oleh Pj kasmin
  8. Tahun 2017 2022, dipimpin oleh Sardi

 

Dari masa kepemimpinan Beliau – beliau inilah Desa Mantingan semakin perubahan – perubahan di berbagai bidang.

Ada satu cerita mitos yang berkembang di Desa Mantingan, yang salah satu larangannya yang masih di taati oleh warga Mantingan. Bemula dari jaman dahulu ketika Maling Kopo dan Maling Gentiri oleh musuhnya. Mereka berlari hingga tertangkap di pemakaman ( dukuh Pos ) sebelum di bawa pergi mereka berpesan “ sok Mben nek dadi rejane jaman, desa iki tak jenengke Mantingan ( Montang – manting iso mangan )”  ini berasal dari ketika berlari pontang – panting dikejar – kejar musuh tapi mereka masih bisa bertahan hidup selain itu mereka juga melarang warga dukuh pos untuk tidak menanam “lompong dan kedelai” apabila ini dilanggar akan terjadi pageblok (wabah penyakit). Mereka berpesan seperti itu karena sebelum tertangkap mereka “ keserimpet oyot mimang dan tanaman kedelai” menyebabkan mereka terjatuh dan tertangkap.

 

  • Sejarah Desa

Sejarah terbentuknya Desa Mantingan pada awalnya merupakan komunitas pemukiman penduduk dengan jumlah jiwa yang masih sedikit, tersebar ditepi atau didalam (Enclave) kawasan hutan jati yang pada waktu itu dikelola oleh Perusahaan Kehutanan Pemerintah Hindia Belanda. Mata pencarian penduduk disamping bercocok tanam pada lahan milik sendiri juga bertani dikawasan hutan sebagai pesanggem, serta bekerja sebagai buruh tanaman, pemeliharaan tebangan kayu kehutanan.

Perusahaan Kehutanan Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu berkantor pusat di Mantingan. Fasilitas Pesanggrahan “Tempo deoleo”, kolam renang dan lapangantenis serta jaringan jalan angkutan produksi kayu jati yang masih dapat dilihat sebagai bukti sejarah sampai sekarang.

Pada jaman republik ini manajemen perusahaan kehutanan negara dipegang oleh Perusahaan Umum Perhutani (BUMN) yang kantor pusatnya telah dipindah ke kotaRembang, namun kata “Mantingan” masih melekat dengan penyebutan lengkap “Kesatuan Pemangkuan Hutan Mantingan” di Rembang.

Karena sangat dipengaruhi oleh sejarah kehutanan maka desa Mantingan yang kita lihat seperti sekarang ini mempunyai ciri spesifiksebagai berikut:

  1. Interaksi yang sangat kuat antara masyarakat dengan sumberdaya hutan
  2. Berkembang menjadi desa dengan tipologi Desa Lingkungan Hutan
  3. Kepemilikan lahan pertaniantanaman pangan sangat kurang dari 0,5 ha pada 2006 per rumah tangga petani, sedangkan 80 orang rumah tangga tidak memiliki lahan lahan pertanian sama sekali.
  4. Kwasan hutan yang luasnya + 86% dari luas wilayah desa Mantingan yakni sebesar 990,009 ha

Sebagai penjelasan huruf C ( lahan pertanian yang sempit )dan huruf D ( Kawasan hutan yang luas ) diatas, sebagai akibat kebijakan tata guna lahan yang berpihak pada penguasa Hindia Belanda saat itu.

 

  • Domografi

Desa Mantingan dengan luas wilayah 990,009 ha merupakan salah satu desa di kabupaten Rembang yang secara geografis diperbatasan dengan Kabupaten Rembang.

  • Batas wilayah Desa Mantingan
    • Sebelah Utara : Desa  Jukung dan Kawasan hutan Perum Perhutani
    • Sebelah Selatan : Kawasan Hutan dan wilayah Kabupaten Blora
    • Sebelah Timur : Desa Kadiwono
    • Sebelah Barat : Desa Bulu
  • Topografi dengan bentang wilayah berombaksampai berbukit.
  • Curah hujan             : 134,00 mm
  • Jumlah bulan hujan : 5 bulan
  • Suhu rata-rata harian : 370C
  • Tinggi tempat : 158m dpl.
  • Luas wilayah Desa Mantingan 990,009 terdiri dari :
    • Tanah sawah : 45,064
    • Tanah Keringm (tegal) : 52, 615 ha
    • Permukiman          : 28,985 ha
    • Tanah Hutan lindung           : 12,00 ha
    • Tanah hutan Produksi           : 834,40 ha
    • Tanah Hutan Konversi : 7,80 ha
    • Tanah lainnya : 9,2 ha
Facebook Comments